LATIHAN DASAR KEPEMIMPINAN

LATIHAN DASAR KEPEMIMPINAN
OSIS SMP N.2 KEC.GUGUAK TAHUN PELAJARAN 2009/2010
(Oleh : ZURNIATI, M.Pd, Guru SMP N.2 Kec.Guguak)

A. Latar Belakang

Untuk mengembangkan potensi siswa sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu siswa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab, diperlukan pembinaan kesiswaan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembinaan ini dimulai dari tingkat awal sampai kepada tingkat perguruan tinggi. Pada tingkat sekolah mulai dari Sekolah dasar sampai ke tingkat sekolah menengah telah tersedia wadah untuk membina siswa secara ekstrakurikuler dan kokurikuler yaitu organisasi siswa intra sekolah (Osis)
Organisasi kesiswaan di sekolah berbentuk organisasi kesiswaan intra sekolah bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat dan reatifitas secara berkesimambungan dan terararah. Kegiatan Ektrakurkuler dapat mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas. Kegiatan osis dapat memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh penggunaan benda-benda terlarang seperti narkotika, psikotropika, dan zat diktif, minuman keras, merokok dan HV/AIDS.
Untuk menghindari tingkah laku yang kurang baik itu, siswa perlu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang positif yang bisa membawa kearah yang berguna baik untuk dii sendiri maupun orang lain, keluarga serta sekolah. Salah satu wadah yang tepat dan terarah adalah kegiatan Ektrakurikuler disekolah yang dibimbing langsung oleh guru. Kegiatan ini bisa dilakukan di sore hari dengan jadwal yang tersusun.
B.Dasar Hukum
• Pancasila dan UUD 45
• GBHN
• UU No. 2 Th. 1989 tentang Sisdiknas juncto UU No. 20/2003
• PP No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar
• PP No. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah
• Kepemndiknas No. 0461/U/1984 tentang Pembinaan Kesiswaan
• Kep Dirjen Dikdasmen No. 201/C/Kep/1986 tentang Pedoman Pembinaan Kesiswaan
• Permen Diknas nomor 39 tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan

C.Tujuan

Latihan dasar kepemimpinan yang diberikan kepada Pengurus Osis ini bertujuan untuk :
1. Memberikan pedoman dan arahan kepada pengurus OSIS untuk berbuat dan menyusun Program Kerja
2. Melatih siswa untuk mampu berorganisasi di tingkat sekolah
3. Memperkenalkan bentuk- bentuk program yang bisa dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.
4. Menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah tangga OSIS

D.Sasaran
Pelatihan dasar Kepemimpinan sasarannya adalah :
1. Pengurus Osis
2. Guru sebagai Pembina kegiatan

E. Jadwal Kegiatan

NO Hari
Tanggal Waktu Kegiatan Tempat Penanngung
Jawab
1
Sabtu
24 Okt 2009 15.00-16.00 Pembukaan Halaman Sekolah Panitia
OSIS
16.00-17.00 Wawasan dan Ketahanan Sekolah Aula Wizar NST,S.Pd
17.00-18.00 Pend. Pendahuluan Bela Negara Aula Yurnida
18.00-20.00 ISOMA Tenda OSIS
20.00-21.00 Prinsip –Prinsip Kepemimpinan
Aula Zurniati,M.Pd
21.00-22.00 ADM dalam Keorganisasion OSIS Aula Drs.Hamda
22.00- 23.00 Selingan Depan Tenda Adina
22.00- 04.30 Istirahat/Tidur Tenda
2 Minggu
18 Okt 2009 04.30-06.00 -Sholat Subuh berjamaah
-Kultum Mushalla Panitia
OSIS
06.00-06.30 Olah Raga/SKJ Halaman Drs.Hamda
06.30-08.00 Sarapan Pagi Tenda OSIS
08.30-09.30 Moivasi berorganisasi Aula Almizar,S.Pd
09.30-10.30 Tata Krama siswa Aula Efni Yetti,M.Pd
10.30-11.00 Istirahat Tenda
11.00-11.45 Pengolahan koperasi Aula Yuniarti.B
11.45-12.30 Pembinaan Kerukunan Hidup beragama Aula Yusafri
12.30-14-30 Renungan suci Mushalla Yukafi M
14.30-1500 Penutupan Halaman Panitia

B. Susunan Pengurus Osis Tahun Pelajaran 2009/2010

1. Pembina OSIS
Ketua : Wizar NST, S.Pd
Wakil Ketua : 1. Drs.Hamda ( Wakil Kepsek)
2. Efni Yetti, M.Pd Wakil Kepsek)
Anggota : 1. Misnurina S.Pd
2.Adina
3. Zurniati, M.Pd
4.Heri Nelson
5.Syafwandi
2. Pengurus OSIS
Ketua : Okta Lavia
Wakil Ketua : Farel Ihsan
Sekretaris : Annike Fitria Alfaliza
Wakil Sekretaris : Jimmy Machriful
Bendahara : Yulia Ulfa
Seksi- Seksi :
1. Seksi Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan YME
Pembina : Yusafri, Samsidar, Sasmiyetti
Ketua : Fitriande Randika Sukma
Anggota : Hari Anggareka
2. Seksi Budi Pekerti luhur dan Akhlak Mulia
Pembina : Yanuardi, Yurnida, Yukafi Mazidah
Ketua : Lusi Gustri Fitri
Anggota : Hidayati Dwi Safira, Nindia Ilmalia
3. Seksi Kepribadian Unggul, Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
Pembina : Hj.Endrawati, S.Pd, Aswitati, Nelfida
Ketua : Serly Timang Sari
Anggota : Yunia Fatma, Tria Fat Alfifi
4. Seksi Prestasi Akademik, Seni dan Olah Raga
Pembina : Indrawati, S.Pd, Desnina, S,Pd, Efryal Arda, S.Pd
Ketua : Akhirnandi Suktria
Anggota : Nesya Mila Sari
5. Seksi Demokrasi, HAM, Pendidikan Politik, Lingkungan hidup, Kepekaan dan Toleransi Sosial
Pembina : Alwaleni, S.Pd, Naswi Delwit, Farida, S.Pd
Ketua :Agge Fetriana
Anggota :Intan Permata Sari, Poppy Oktari
6. Seksi Kreatifitas Keterampilan dan Kewirausahaan
Pembina : Delfi Nurmai, Lindayati, Misnawati, Wisferni
Ketua : Nanda Nofrizal
Anggota : Rahmaiti Arnia Sukma, Siska Wulandari, M.Syahrulli
7. Seksi Kwalitas Jasmani, Keselamatan dan Gizi
Pembina : Asna, Yuniarti, Zainab,S.Pd, Seswita
Ketua : M.Fadel
Anggota : M.Ridho , Halimah Fitriani
8. Seksi Saatra dan Budaya
Pembina : Almizar, S.Pd, Hidayat, Refnilda, Dewi Mai Rini
Ketua : Taufik Jaidi
Anggota :Mona Yulita, Fitria Mona Kumala Sari
9. Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pembina : Yuni Hermila S.Kom, Welda S.Kom,Nursimar Abbas
Ketua : Fedri Kurniawan
Anggota : Rahmi Anearfi, Pricila Arlen
10. Seksi Komunikasi dalam Bahasa Inggris
Pembina : Muharni, Usdetis, Hidayati
Ketua : Sonya Nafisah
Anggota :Zahrunnisa Fauzi, Shinta Mayshelita

C. Materi Latihan Dasar
1. Syarat Pengurus OSIS
• Taqwa terhadap Tuhan YME
• Memiliki budi pekerti yang baik dan sopan santun terhadap orang tua, guru, dan teman
• Memiliki bakat sebagai pemimpin siswa
• Dapat mengatur waktu dengan sebaik-baiknya sehingga pelajaran tidak terganggu karena menjadi pengurus OSIS
• Memiliki kemauan, kemampuan, dan pengetahuan yangmemadai
• Kewajiban Pengurus OSIS secara umum
• Menyusun dan melaksanakan program kerja sesuai dengan AD/ART OSIS
• Selalu menjunjung tinggi nama baik, kehormatan dan martabat sekolah
• Selalu berkonsultasi dengan pembina

2. Kewajiban Pengurus OSIS secara umum
• Menyusun dan melaksanakan program kerja sesuai dengan AD/ART OSIS
• Selalu menjunjung tinggi nama baik, kehormatan dan martabat sekolah
• Selalu berkonsultasi dengan pembina

3. TUGAS KETUA
• Memimpin organisasi dengan baik dan bijaksana
• Mengkoordinasikan semua aparat kepengurusan
• Menetapkan kebijaksanaan yang telah dipersiapkan dan direncanakan oleh aparat kepengurusan
• Memimpin rapat
• Menetapkan kebijaksanaan dan mengambil keputusan berdasarkan musyawarah mufaka
• Setiap saat mengevaluasi kegiatan aparat kepengurusan

4. TUGAS WAKIL KETUA
• Bersama-sama ketua menetapkan kebijakan
• Memberikan saran kepada ketua dalam pengambilan keputusan
• Menggatikan ketua jika ketua berhalangan
• Membantu ketua dalam melaksanakan tugasnya
• Bertanggungjawab kepada ketua
• Wakil ketua I mengkoordinir wakil sekretaris I dan sekretaris bidang I, II, III dan IV, wakil ketua II mengkoordinir wakil sekretaris II, sekretaris bidang V, VI, VII, dan VIII

5. Tugas Sekretaris
• Memberi saran/masukan kepada ketua dalam mengambil keputusan
• Mendampingi ketua dalam memimpin rapat
• Menyiapkan, mendistribusikan dan menyimpan surat serta arsip yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan
• Menyiapkan laporan, surat, hasil rapat dan evalauasi kegiatan
• Bersama ketua menandatangani setiap surat
• Bertanggung jawab atas tertib administrasi organisasi
• Bertindak sebagi notulis dalam rapat, atau diserahkan kepada wakil sekretaris

6. Tugas Bendahara dan wakil bendahara
• Bertanggungjawab dan mengetahui segala pemasukan/pengeluaran uang/biaya yang diperlukan
• Membuat tanda bukti kuitansi setiap pemasukan/pengeluaran uang untuk pertanggungjawaban
• Bertanggungjawab atas inventaris dan perbendaharaan
• Menyampaiakan laporan keuangan secara berkala

7. POKOK-POKOK KEGIATAN SEKSI

1. Seksi Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan YME
a. Melaksanakan peribadatan
b. Memperingati hari besar Agama Islam
c. Melaksanakan perbuatan amaliah islam
d. Membina toleransi antar beragama
e. Mengadakan kegiatan lomba keagamaan
f. Memberdayakan dan mengembangkan kegiatan keagamaan di sekolah

2. Seksi Budi Pekerti luhur dan Akhlak Mulia
a. Melaksanakn tata tertib sekolah
b. Melaksanakn gotong royong
c. Melaksanakan norma yang berlaku dan tata karma pergaulan
d. Menumbuh kembang kesadaran untuk berkorban
e. Menumbuh kembangkan sikap hormat antar warga sekolah
f. Melaksanak kegiatan 7 K

3. Seksi Kepribadian Unggul, Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
a. Melaksankan upacara Bendera setiap senin dan hari-hari besar
b. Menyayikan lagu-lagu nasonal
c. Melaksanakn kegiatan kepramukaan
d. Mengunjugi tempat-tempat bersejarah
e. Mempelajari nilai-nilai luhur perjuangan para pahlawan
f. Melaksanakan kegiatan bela negara
g. Melakukan pertukaran siswa antar daerah

4. Seksi Prestasi Akademik, Seni dan Olah Raga
a. Mengadakan lomba mata pelajaran
b. Menyelenggarakan Karya Ilmiah
c. Mengikuti kegiatan workshop, seminar, diskusi panel yang bernuansa iptek
d. Mengadakan study banding
e. Memproduksi media pembelajaran
f. Mengadakan pameran karya inovatif
g. Mengoptimalka pemanfaatan perpustakaan
h. Membentuk glub sain, seni, olah raga
i. Mengadakan lomba olah raga

5. Seksi Demokrasi, HAM, Pendidikan Politik, Lingkungan hidup, Kepekaan dan Toleransi Sosial
a. Memntapakan dan mengembangkan peran OSIS
b. Melaksanak pelatihan kepemimpinan OSIS
c. Melaksanakan kegiatan dengan prinsip transparan dan profesional
d. Melaksanakan kewajiban dn hak diri dan orang lain
e. Melaksanakn kegiatan orientasi siswa baru
f. Melaksanakan kegiatan penghijauan

LATIHAN DASAR KEPEMIMPINAN
OSIS SMP N.2 KEC.GUGUAK TAHUN PELAJARAN 2009/2010
(Oleh : ZURNIATI, M.Pd, Guru SMP N.2 Kec.Guguak)

A. Latar Belakang

Untuk mengembangkan potensi siswa sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu siswa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab, diperlukan pembinaan kesiswaan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembinaan ini dimulai dari tingkat awal sampai kepada tingkat perguruan tinggi. Pada tingkat sekolah mulai dari Sekolah dasar sampai ke tingkat sekolah menengah telah tersedia wadah untuk membina siswa secara ekstrakurikuler dan kokurikuler yaitu organisasi siswa intra sekolah (Osis)
Organisasi kesiswaan di sekolah berbentuk organisasi kesiswaan intra sekolah bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat dan reatifitas secara berkesimambungan dan terararah. Kegiatan Ektrakurkuler dapat mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas. Kegiatan osis dapat memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh penggunaan benda-benda terlarang seperti narkotika, psikotropika, dan zat diktif, minuman keras, merokok dan HV/AIDS.
Untuk menghindari tingkah laku yang kurang baik itu, siswa perlu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang positif yang bisa membawa kearah yang berguna baik untuk dii sendiri maupun orang lain, keluarga serta sekolah. Salah satu wadah yang tepat dan terarah adalah kegiatan Ektrakurikuler disekolah yang dibimbing langsung oleh guru. Kegiatan ini bisa dilakukan di sore hari dengan jadwal yang tersusun.
B.Dasar Hukum
• Pancasila dan UUD 45
• GBHN
• UU No. 2 Th. 1989 tentang Sisdiknas juncto UU No. 20/2003
• PP No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar
• PP No. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah
• Kepemndiknas No. 0461/U/1984 tentang Pembinaan Kesiswaan
• Kep Dirjen Dikdasmen No. 201/C/Kep/1986 tentang Pedoman Pembinaan Kesiswaan
• Permen Diknas nomor 39 tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan

C.Tujuan

Latihan dasar kepemimpinan yang diberikan kepada Pengurus Osis ini bertujuan untuk :
1. Memberikan pedoman dan arahan kepada pengurus OSIS untuk berbuat dan menyusun Program Kerja
2. Melatih siswa untuk mampu berorganisasi di tingkat sekolah
3. Memperkenalkan bentuk- bentuk program yang bisa dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.
4. Menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah tangga OSIS

D.Sasaran
Pelatihan dasar Kepemimpinan sasarannya adalah :
1. Pengurus Osis
2. Guru sebagai Pembina kegiatan

E. Jadwal Kegiatan

NO Hari
Tanggal Waktu Kegiatan Tempat Penanngung
Jawab
1
Sabtu
24 Okt 2009 15.00-16.00 Pembukaan Halaman Sekolah Panitia
OSIS
16.00-17.00 Wawasan dan Ketahanan Sekolah Aula Wizar NST,S.Pd
17.00-18.00 Pend. Pendahuluan Bela Negara Aula Yurnida
18.00-20.00 ISOMA Tenda OSIS
20.00-21.00 Prinsip –Prinsip Kepemimpinan
Aula Zurniati,M.Pd
21.00-22.00 ADM dalam Keorganisasion OSIS Aula Drs.Hamda
22.00- 23.00 Selingan Depan Tenda Adina
22.00- 04.30 Istirahat/Tidur Tenda
2 Minggu
18 Okt 2009 04.30-06.00 -Sholat Subuh berjamaah
-Kultum Mushalla Panitia
OSIS
06.00-06.30 Olah Raga/SKJ Halaman Drs.Hamda
06.30-08.00 Sarapan Pagi Tenda OSIS
08.30-09.30 Moivasi berorganisasi Aula Almizar,S.Pd
09.30-10.30 Tata Krama siswa Aula Efni Yetti,M.Pd
10.30-11.00 Istirahat Tenda
11.00-11.45 Pengolahan koperasi Aula Yuniarti.B
11.45-12.30 Pembinaan Kerukunan Hidup beragama Aula Yusafri
12.30-14-30 Renungan suci Mushalla Yukafi M
14.30-1500 Penutupan Halaman Panitia

B. Susunan Pengurus Osis Tahun Pelajaran 2009/2010

1. Pembina OSIS
Ketua : Wizar NST, S.Pd
Wakil Ketua : 1. Drs.Hamda ( Wakil Kepsek)
2. Efni Yetti, M.Pd Wakil Kepsek)
Anggota : 1. Misnurina S.Pd
2.Adina
3. Zurniati, M.Pd
4.Heri Nelson
5.Syafwandi
2. Pengurus OSIS
Ketua : Okta Lavia
Wakil Ketua : Farel Ihsan
Sekretaris : Annike Fitria Alfaliza
Wakil Sekretaris : Jimmy Machriful
Bendahara : Yulia Ulfa
Seksi- Seksi :
1. Seksi Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan YME
Pembina : Yusafri, Samsidar, Sasmiyetti
Ketua : Fitriande Randika Sukma
Anggota : Hari Anggareka
2. Seksi Budi Pekerti luhur dan Akhlak Mulia
Pembina : Yanuardi, Yurnida, Yukafi Mazidah
Ketua : Lusi Gustri Fitri
Anggota : Hidayati Dwi Safira, Nindia Ilmalia
3. Seksi Kepribadian Unggul, Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
Pembina : Hj.Endrawati, S.Pd, Aswitati, Nelfida
Ketua : Serly Timang Sari
Anggota : Yunia Fatma, Tria Fat Alfifi
4. Seksi Prestasi Akademik, Seni dan Olah Raga
Pembina : Indrawati, S.Pd, Desnina, S,Pd, Efryal Arda, S.Pd
Ketua : Akhirnandi Suktria
Anggota : Nesya Mila Sari
5. Seksi Demokrasi, HAM, Pendidikan Politik, Lingkungan hidup, Kepekaan dan Toleransi Sosial
Pembina : Alwaleni, S.Pd, Naswi Delwit, Farida, S.Pd
Ketua :Agge Fetriana
Anggota :Intan Permata Sari, Poppy Oktari
6. Seksi Kreatifitas Keterampilan dan Kewirausahaan
Pembina : Delfi Nurmai, Lindayati, Misnawati, Wisferni
Ketua : Nanda Nofrizal
Anggota : Rahmaiti Arnia Sukma, Siska Wulandari, M.Syahrulli
7. Seksi Kwalitas Jasmani, Keselamatan dan Gizi
Pembina : Asna, Yuniarti, Zainab,S.Pd, Seswita
Ketua : M.Fadel
Anggota : M.Ridho , Halimah Fitriani
8. Seksi Saatra dan Budaya
Pembina : Almizar, S.Pd, Hidayat, Refnilda, Dewi Mai Rini
Ketua : Taufik Jaidi
Anggota :Mona Yulita, Fitria Mona Kumala Sari
9. Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pembina : Yuni Hermila S.Kom, Welda S.Kom,Nursimar Abbas
Ketua : Fedri Kurniawan
Anggota : Rahmi Anearfi, Pricila Arlen
10. Seksi Komunikasi dalam Bahasa Inggris
Pembina : Muharni, Usdetis, Hidayati
Ketua : Sonya Nafisah
Anggota :Zahrunnisa Fauzi, Shinta Mayshelita

C. Materi Latihan Dasar
1. Syarat Pengurus OSIS
• Taqwa terhadap Tuhan YME
• Memiliki budi pekerti yang baik dan sopan santun terhadap orang tua, guru, dan teman
• Memiliki bakat sebagai pemimpin siswa
• Dapat mengatur waktu dengan sebaik-baiknya sehingga pelajaran tidak terganggu karena menjadi pengurus OSIS
• Memiliki kemauan, kemampuan, dan pengetahuan yangmemadai
• Kewajiban Pengurus OSIS secara umum
• Menyusun dan melaksanakan program kerja sesuai dengan AD/ART OSIS
• Selalu menjunjung tinggi nama baik, kehormatan dan martabat sekolah
• Selalu berkonsultasi dengan pembina

2. Kewajiban Pengurus OSIS secara umum
• Menyusun dan melaksanakan program kerja sesuai dengan AD/ART OSIS
• Selalu menjunjung tinggi nama baik, kehormatan dan martabat sekolah
• Selalu berkonsultasi dengan pembina

3. TUGAS KETUA
• Memimpin organisasi dengan baik dan bijaksana
• Mengkoordinasikan semua aparat kepengurusan
• Menetapkan kebijaksanaan yang telah dipersiapkan dan direncanakan oleh aparat kepengurusan
• Memimpin rapat
• Menetapkan kebijaksanaan dan mengambil keputusan berdasarkan musyawarah mufaka
• Setiap saat mengevaluasi kegiatan aparat kepengurusan

4. TUGAS WAKIL KETUA
• Bersama-sama ketua menetapkan kebijakan
• Memberikan saran kepada ketua dalam pengambilan keputusan
• Menggatikan ketua jika ketua berhalangan
• Membantu ketua dalam melaksanakan tugasnya
• Bertanggungjawab kepada ketua
• Wakil ketua I mengkoordinir wakil sekretaris I dan sekretaris bidang I, II, III dan IV, wakil ketua II mengkoordinir wakil sekretaris II, sekretaris bidang V, VI, VII, dan VIII

5. Tugas Sekretaris
• Memberi saran/masukan kepada ketua dalam mengambil keputusan
• Mendampingi ketua dalam memimpin rapat
• Menyiapkan, mendistribusikan dan menyimpan surat serta arsip yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan
• Menyiapkan laporan, surat, hasil rapat dan evalauasi kegiatan
• Bersama ketua menandatangani setiap surat
• Bertanggung jawab atas tertib administrasi organisasi
• Bertindak sebagi notulis dalam rapat, atau diserahkan kepada wakil sekretaris

6. Tugas Bendahara dan wakil bendahara
• Bertanggungjawab dan mengetahui segala pemasukan/pengeluaran uang/biaya yang diperlukan
• Membuat tanda bukti kuitansi setiap pemasukan/pengeluaran uang untuk pertanggungjawaban
• Bertanggungjawab atas inventaris dan perbendaharaan
• Menyampaiakan laporan keuangan secara berkala

7. POKOK-POKOK KEGIATAN SEKSI

1. Seksi Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan YME
a. Melaksanakan peribadatan
b. Memperingati hari besar Agama Islam
c. Melaksanakan perbuatan amaliah islam
d. Membina toleransi antar beragama
e. Mengadakan kegiatan lomba keagamaan
f. Memberdayakan dan mengembangkan kegiatan keagamaan di sekolah

2. Seksi Budi Pekerti luhur dan Akhlak Mulia
a. Melaksanakn tata tertib sekolah
b. Melaksanakn gotong royong
c. Melaksanakan norma yang berlaku dan tata karma pergaulan
d. Menumbuh kembang kesadaran untuk berkorban
e. Menumbuh kembangkan sikap hormat antar warga sekolah
f. Melaksanak kegiatan 7 K

3. Seksi Kepribadian Unggul, Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
a. Melaksankan upacara Bendera setiap senin dan hari-hari besar
b. Menyayikan lagu-lagu nasonal
c. Melaksanakn kegiatan kepramukaan
d. Mengunjugi tempat-tempat bersejarah
e. Mempelajari nilai-nilai luhur perjuangan para pahlawan
f. Melaksanakan kegiatan bela negara
g. Melakukan pertukaran siswa antar daerah

4. Seksi Prestasi Akademik, Seni dan Olah Raga
a. Mengadakan lomba mata pelajaran
b. Menyelenggarakan Karya Ilmiah
c. Mengikuti kegiatan workshop, seminar, diskusi panel yang bernuansa iptek
d. Mengadakan study banding
e. Memproduksi media pembelajaran
f. Mengadakan pameran karya inovatif
g. Mengoptimalka pemanfaatan perpustakaan
h. Membentuk glub sain, seni, olah raga
i. Mengadakan lomba olah raga

5. Seksi Demokrasi, HAM, Pendidikan Politik, Lingkungan hidup, Kepekaan dan Toleransi Sosial
a. Memntapakan dan mengembangkan peran OSIS
b. Melaksanak pelatihan kepemimpinan OSIS
c. Melaksanakan kegiatan dengan prinsip transparan dan profesional
d. Melaksanakan kewajiban dn hak diri dan orang lain
e. Melaksanakn kegiatan orientasi siswa baru
f. Melaksanakan kegiatan penghijauan

6. Seksi Kreatifitas Keterampilan dan Kewirausahaan
a. Meningkatak kreatifitas dan keterampilan dalam menciptakan barang yang berharga
b. Menciptakan kretifitas dan keterampilan di bidang barang dan jasa
c. Mengembangka usaha koperasi
d. Menigkatkan keterampilan siswa melalui sertifikasi kompetensi siswa
e.
7. Seksi Kwalitas Jasmani, Keselamatan dan Gizi
a. Melaksanakan kebiasaan hidup bersih
b. Melaksanak an Usaha kegiatan Sekolah (UKS)
c. Melaksanakan pencegahan penggunaan Narkotika, psikotropika, zat adiktif, merokok, HIV/AIDS
d. Meningkatkan kesehatan reproduktif remaja
e. Melaksanakan hidup aktif
f. Melaksanakan diversifikasi pangan
g. Melaksanakan pengamanan jajan anak sekolah

8. Seksi Saatra dan Budaya
a. Mengembankan wawasan dan keterampilan siswa dibidang sastra
b. Menyelengarakan Festival/lomba sastra dan budaya
c. Meningkana day cipt sastra
d. Meningkatakan apresiasi budaya

9. Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi
a. Memanfaatkan TIK unuk menfasilitasi kegiatan pembelajaran
b. Menjadaika TIK sebagai wahana kegiatan dan inovasi
c. Memanfaatkan TIK untuk meningkatkan integritas kebangsaan

10. Seksi Komunikasi dalam Bahasa Inggris
a. Melaksanakan lomba debat dan pidato
b. Melaksanakan lomba menuls dan koresponden
c. Melaksanakan English Day
d. Melaksanaka Story Telling
e. Melaksanak lomba Puzzles/ scrible

6. Seksi Kreatifitas Keterampilan dan Kewirausahaan
a. Meningkatak kreatifitas dan keterampilan dalam menciptakan barang yang berharga
b. Menciptakan kretifitas dan keterampilan di bidang barang dan jasa
c. Mengembangka usaha koperasi
d. Menigkatkan keterampilan siswa melalui sertifikasi kompetensi siswa
e.
7. Seksi Kwalitas Jasmani, Keselamatan dan Gizi
a. Melaksanakan kebiasaan hidup bersih
b. Melaksanak an Usaha kegiatan Sekolah (UKS)
c. Melaksanakan pencegahan penggunaan Narkotika, psikotropika, zat adiktif, merokok, HIV/AIDS
d. Meningkatkan kesehatan reproduktif remaja
e. Melaksanakan hidup aktif
f. Melaksanakan diversifikasi pangan
g. Melaksanakan pengamanan jajan anak sekolah

8. Seksi Saatra dan Budaya
a. Mengembankan wawasan dan keterampilan siswa dibidang sastra
b. Menyelengarakan Festival/lomba sastra dan budaya
c. Meningkana day cipt sastra
d. Meningkatakan apresiasi budaya

9. Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi
a. Memanfaatkan TIK unuk menfasilitasi kegiatan pembelajaran
b. Menjadaika TIK sebagai wahana kegiatan dan inovasi
c. Memanfaatkan TIK untuk meningkatkan integritas kebangsaan

10. Seksi Komunikasi dalam Bahasa Inggris
a. Melaksanakan lomba debat dan pidato
b. Melaksanakan lomba menuls dan koresponden
c. Melaksanakan English Day
d. Melaksanaka Story Telling
e. Melaksanak lomba Puzzles/ scrible

To Be a Professional Teacher as the Key of Success in English Language Teaching

To Be a Professional Teacher as the Key of Success in English Language Teaching

( By : Zurniati, M.Pd. Guru SMP N.2 Kec.Guguak)

In the teaching and learning context, the professional of English teacher can influence the effectiveness of teaching as well as the students’ success. Mostly, English teacher do not care about this, because perhaps, they do not realize that their teaching plays an important role in their class activities. They think that their only job is to transfer their knowledge to the students. That’s all. So, this teacher-oriented classroom activity leads to monotonous class, which makes students bored and unmotivated.

This article aims to provide some information about characteristics of professional teacher. Based on the personal experiences of the writer, and from some sources, this article mainly consists of three sections. Firstly, it presents the ideas of language teaching that has been stated by some educational experts. Secondly, it provides information characteristics of professional teacher, which should be carried out by teachers. And finally, this article ends with conclusion.

Language Teaching

Traditionally, teaching is regarded as a conscious attempt of transferring knowledge from teachers to learners.  Teacher thinks that teaching is their authority, in the sense that they are the only responsible persons who have to make decisions on what and how their students should learn. What the students do is based on the teacher instructions and wants. The students just follow the instructions with obedience. In short, teaching is considered more important than learning.

In contract, teaching in modern understanding has changed. Learning is understood as more important than teaching.

The characteristics of Professional teacher

Professional teacher has many problems, it grows, and has relevant with another problem (Anwar, 2004). The problem can come from the students, environment, the headmaster, and teacher it self. It can influence the result of education.

The student success in the classroom is more on the hands of the students themselves rather than the teacher. It does not mean that existence of the teacher in the classroom worth nothing. His teaching repertoires, such as selecting materials, designing the lesson planning, applying the easy-to do teaching techniques are also very useful for and needed by the students in their learning process. The student success is really influenced by the teacher’ attitude in the way he performs in the classroom. So the professional English teacher should possess some characteristics of a professional teaching, i.e. mastery, create, patient, humorous, challenging

  1. Mastery

A professional English teacher should master the relevant academic knowledge thoroughly. First, he should have a strong will to read and understand the English curriculum (Sudjana, 2000). He should know that the ultimate goal of teaching as stated in curriculum is to develop the students’ communicative competence, i.e. grammatical competence, socio-linguistic competence, discourse competence and strategic competence.

Each competence has its own teaching objective as follow: (Delce in Depdiknas, 2005)

  1. Discourse Competence- to enable the students to combine language structure into different types of cohesive texts (E.g. speech, poetry, etc) and to help the students develop their ability to interpret the massages  not  only the sentence level but also the functional level
  2. Factional competence- to enable to use language in oral  and written. This can be used for requesting, invitation etc. The students can do the instruction that has given by the teacher.
  3. Socio-Culture- to enable the students to know the culture of target language. The students can choose the suitable express depend on the situation
  4. Linguistic competence- to enable student develop their understanding and ability to use the target language in social context. It means that the target language is naturally used as a means of communication  and  to help students adapt themselves to the culture of the target language.
  5. Strategic competence- to help students develop their ability of how to maintain communication process which enhances the efficiency  of the communication as well as to enable them to overcome difficulties when communication breakdown occur

Secondly, a teacher should master the materials to be discussed with the class. He should also provide enough information to clarify the materials, so that the students can catch the idea clearly, even for the every complicated ones. The four skills (reading, listening, speaking and writing), and the language component (vocabulary, grammar, pronunciation and spelling) as well as the language functions should be developed and presented to students in the classroom process. It is necessary for he teacher to select the materials listed in the curriculum according to on what the students really need.

Thirdly, a teacher should be well – prepared.  In order to run the class, the teacher should make some preparation before coming into the classroom. The preparation includes selecting the materials, designing a lesson plan, and also  preparing a set of instrument for testing or evaluation to measure how far the materials that have been presented and to know the effectiveness of teaching program, or technique.

Four, a teacher should be able to handle the class well. The teacher is suggested to state the objectives of teaching before the lesson, and write them on the whiteboard. Clarify of purposes can motivate the students and create trust in teachers. Teachers should always connect the lesson with the previous ones. He should begin the class with warm attitude by creating joy and a good atmosphere of learning.

During the classroom activities, the role of professional teacher of the is considered to be very essential and, influential towards the smoothness of the teaching process. Anwar (2004) Stated the role of professional the teacher in the class is as follows:

  1. Motivator

There are many things that the teacher can do to motivate the students during the process of teaching, such as, giving praise to the successful students, never discouraging the weak students, creating a good and enjoyable learning atmosphere. It can do by songs, games, etc. Never show a displeasure face to the students, or many other activities that can increase the students’ interest and motivation.

  1. Organizer

The teacher is responsible for his classroom management. Activities to be carried out should be well planned,   individual work. As a professional teacher, he should never leave the class during the lesson. It shows the students that the teacher is not interested in helping them. Therefore, it is wasting while they are busy trying to solve their language problem.

  1. Monitor

During the discussion, the teacher should monitor the students. It is a very essential activity, because by monitor, the teacher will be able to know whether the students understand the task to be done or not, and who needs help. Eye- contact is important. It makes the students feel that the teacher is interested in them. The teacher should walk around the class so that he can see more of the  students. He will able to motivate passive students to be more active so he can reduce problems on discipline.

  1. Facilitator

Identify the students who need help during the discussion is also the teachers’ job. He has to give the students time to read and discuss the task in their groups. While going around and monitoring the groups or pairs, the teacher should help them facilitate relevant solutions. It means that the teacher should show his care about them.

  1. Evaluator

Evaluation is an inseparable part of teaching. Teaching and evaluation are always interrelated and considered as the main issues in English Language teaching. It is a professional teacher’s duty to test or evaluate his students before, whilst, and after the process of teaching. Evaluation or testing should given to the students in order to know what the students really need, to provide feedback about the effectiveness of teaching, and to measure the students’ achievement and progress in teaching program. At the end of particular period, the function of evaluation is to show the result of the whole teaching program to determine the degree of its success.

  1. Fairness

A professional teacher should be able to treat the students equally. It is very important for the teacher regardless the students’ status in sex, race, financial, or economical background, intelligence or any another status of them. Usually students with low intelligence and weak financial background are not openhearted in learning. So, the teacher has to encourage and motivate them to learn better during the classroom activities.

  1. Creative

The professional teacher should be creative. It means that he should have collection of teaching techniques which can make the teaching and learning process more interesting, fun, effective, and more enjoyable. Teaching is not just book-oriented. It is not only the case of opening a book page by page, doing exercise, and explaining, but also using some other techniques, such as media, songs, games, role playing, or other communication activities that can create more positive learning environment. Such a teaching is then expected to be able to develop the students’ interest and motivation.

  1. Patient

A teacher is patient at explaining thing. Being comfortable with explanation context to students is an essential skill for teachers (ESLIN, 2006).

A teacher is supposed to be patient during the classroom process, especially in correcting the students’ mistakes. They should never show the displeasure face if the students’ answers are incorrect. A good teacher will lead his face be animated by showing positive reactions when students give correct answers, and use a question face when the answers are wrong.

Being bad tempered during the lessons would only discourage the students and make the classroom process boring. The students have no more motivation to learn. It is not wise for a teacher to show his anger to the students when they make mistakes. As everyone knows that students’ making mistakes is an unavoidable part of learning.

  1. Humorous

A teacher should be able to add humours to his classroom activities. The humours inserted during the process of teaching could reduce the students’ nervousness and tense. It is an effort for the teacher to make a good rapport with the students. The class will be relaxed and learn better when they are not under pressure.

Laughs at the end of hard work will enhance the students’ memory and the lesson stay longer in the memory. Teachers should not be afraid to lessen seriousness in classroom activities by humours, as long as the humours are still contextual and relevant with the lessons. In such situation, the students feel free and are not afraid of making mistakes to express themselves. The class will be free from frightening situation

  1. Challenging

An English teacher should challenge his students. One of the ways to challenge them is that teachers should speak English with their students in or out of the classroom. By so doing, teacher provides examples and exposures of language use. Thus, students are expected to acquire the language. This build the students confidence and challenge them to speak English. If the teacher does not want to star to speak, the students will keep silent forever. However, the teacher should maintain the level of difficulty, not so high or so low, so that language is good enough to challenge the students, not to discourage them.

The task from the teacher should challenge the students to express their ideas, feelings, or opinions using their own word, of course in English. By so doing, the objective of the teaching program, i.e. to enable students develop their understanding and ability to use the target language as a means of oral and written

Communication, could be achieved, teaching stated in the English curriculum 1994

Conclusion

To conclude, it could be stated that the students’ success and the effectiveness of teaching are so much influenced by characteristics of the teacher’ performance in conducting the class. A professional teacher should possess such characteristics in his performance, and high language mastery as well. He has to try to apply those characteristics as well as possible in his lessons for benefits of the students. It is not difficult to do that. Try and try

References :

Sudjana, 2000.  Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru  Algensindo.

Anwar, 2004. Profesi Jabatan Kependidikan dan Guru sebagai  Upaya Menjamin Kualitas Pembelajaran. Jakarta : Uhamka Press

Departemen Pendidikan Nasioanal, 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris. Jakarta : Depdiknas

Eslin, 2006. Qualities of Good ESL teachers, Questions to ask yourself if interested in ESL Teach. The Internet Educational consulting services: http:/www.eslincanada.com/good.html . Accessed on  Sunday, Oktober 2006: 11.00.

To Be a Professional Teacher as the Key of Success in English Language Teaching

In the teaching and learning context, the professional of English teacher can influence the effectiveness of teaching as well as the students’ success. Mostly, English teacher do not care about this, because perhaps, they do not realize that their teaching plays an important role in their class activities. Their think that their only job is to transfer their knowledge to the students. That’s all. So, this teacher-oriented classroom activity leads to monotonous class, which makes students bored and unmotivated.

            This article aims to provide some information about characteristics of professional teacher. Based on the personal experiences of the writer, and from some sources, this article mainly consists of three sections. Firstly, it presents the ideas of language teaching that has been stated by some educational experts. Secondly, it provides information characteristics of professional teacher, which should be carried out by teachers. And finally, this article ends with conclusion.

 

Language Teaching

            Traditionally, teaching is regarded as a conscious attempt of transferring knowledge from teachers to learners.  Teacher thinks that teaching is their authority, in the sense that they are the only responsible persons who have to make decisions on what and how their students should learn. What the students do is based on the teacher instructions and wants. The students just follow the instructions with obedience. In short, teaching is considered more important than learning.

            In contract, teaching in modern understanding has changed. Learning is understood as more important than teaching.

 

 

 

 

The characteristics of Professional teacher

            Professional teacher has many problems, it grows, and has relevant with another problem (Anwar, 2004). The problem can come from the students, environment, the headmaster, and teacher it self. It can influence the result of education.

            The student success in the classroom is more on the hands of the students themselves rather than the teacher. It does not mean that existence of the teacher in the classroom worth nothing. His teaching repertoires, such as selecting materials, designing the lesson planning, applying the easy-to do teaching techniques are also very useful for and needed by the students in their learning process. The student success is really influenced by the teacher’ attitude in the way he performs in the classroom. So the professional English teacher should possess some characteristics of a professional teaching, i.e. mastery, create, patient, humorous, challenging

 

  1. Mastery

A professional English teacher should master the relevant academic knowledge thoroughly. First, he should have a strong will to read and understand the English curriculum (Sudjana, 2000). He should know that the ultimate goal of teaching as stated in curriculum is to develop the students’ communicative competence, i.e. grammatical competence, socio-linguistic competence, discourse competence and strategic competence.

Each competence has its own teaching objective as follow: (Delce in Depdiknas, 2005)

  1. Discourse Competence- to enable the students to combine language structure into different types of cohesive texts (E.g. speech, poetry, etc) and to help the students develop their ability to interpret the massages  not  only the sentence level but also the functional level
  2. Factional competence- to enable to use language in oral  and written. This can be used for requesting, invitation etc. The students can do the instruction that has given by the teacher.
  3. Socio-Culture- to enable the students to know the culture of target language. The students can choose the suitable express depend on the situation
  4. Linguistic competence- to enable student develop their understanding and ability to use the target language in social context. It means that the target language is naturally used as a means of communication  and  to help students adapt themselves to the culture of the target language.
  5. Strategic competence- to help students develop their ability of how to maintain communication process which enhances the efficiency  of the communication as well as to enable them to overcome difficulties when communication breakdown occur

 

Secondly, a teacher should master the materials to be discussed with the class. He should also provide enough information to clarify the materials, so that the students can catch the idea clearly, even for the every complicated ones. The four skills (reading, listening, speaking and writing), and the language component (vocabulary, grammar, pronunciation and spelling) as well as the language functions should be developed and presented to students in the classroom process. It is necessary for he teacher to select the materials listed in the curriculum according to on what the students really need.

Thirdly, a teacher should be well – prepared.  In order to run the class, the teacher should make some preparation before coming into the classroom. The preparation includes selecting the materials, designing a lesson plan, and also  preparing a set of instrument for testing or evaluation to measure how far the materials that have been presented and to know the effectiveness of teaching program, or technique.

Four, a teacher should be able to handle the class well. The teacher is suggested to state the objectives of teaching before the lesson, and write them on the whiteboard. Clarify of purposes can motivate the students and create trust in teachers. Teachers should always connect the lesson with the previous ones. He should begin the class with warm attitude by creating joy and a good atmosphere of learning.

During the classroom activities, the role of professional teacher of the is considered to be very essential and, influential towards the smoothness of the teaching process. Anwar (2004) Stated the role of professional the teacher in the class is as follows:

 

  1. Motivator

There are many things that the teacher can do to motivate the students during the process of teaching, such as, giving praise to the successful students, never discouraging the weak students, creating a good and enjoyable learning atmosphere. It can do by songs, games, etc. Never show a displeasure face to the students, or many other activities that can increase the students’ interest and motivation.

 

  1. Organizer

The teacher is responsible for his classroom management. Activities to be carried out should be well planned,   individual work. As a professional teacher, he should never leave the class during the lesson. It shows the students that the teacher is not interested in helping them. Therefore, it is wasting while they are busy trying to solve their language problem.

 

  1. Monitor

During the discussion, the teacher should monitor the students. It is a very essential activity, because by monitor, the teacher will be able to know whether the students understand the task to be done or not, and who needs help. Eye- contact is important. It makes the students feel that the teacher is interested in them. The teacher should walk around the class so that he can see more of the  students. He will able to motivate passive students to be more active so he can reduce problems on discipline.

 

  1. Facilitator

Identify the students who need help during the discussion is also the teachers’ job. He has to give the students time to read and discuss the task in their groups. While going around and monitoring the groups or pairs, the teacher should help them facilitate relevant solutions. It means that the teacher should show his care about them.

 

  1. Evaluator

Evaluation is an inseparable part of teaching. Teaching and evaluation are always interrelated and considered as the main issues in English Language teaching. It is a professional teacher’s duty to test or evaluate his students before, whilst, and after the process of teaching. Evaluation or testing should given to the students in order to know what the students really need, to provide feedback about the effectiveness of teaching, and to measure the students’ achievement and progress in teaching program. At the end of particular period, the function of evaluation is to show the result of the whole teaching program to determine the degree of its success.

 

  1. Fairness

A professional teacher should be able to treat the students equally. It is very important for the teacher regardless the students’ status in sex, race, financial, or economical background, intelligence or any another status of them. Usually students with low intelligence and weak financial background are not openhearted in learning. So, the teacher has to encourage and motivate them to learn better during the classroom activities.

 

  1. Creative

The professional teacher should be creative. It means that he should have collection of teaching techniques which can make the teaching and learning process more interesting, fun, effective, and more enjoyable. Teaching is not just book-oriented. It is not only the case of opening a book page by page, doing exercise, and explaining, but also using some other techniques, such as media, songs, games, role playing, or other communication activities that can create more positive learning environment. Such a teaching is then expected to be able to develop the students’ interest and motivation.

 

  1. Patient

A teacher is patient at explaining thing. Being comfortable with explanation context to students is an essential skill for teachers (ESLIN, 2006).

 A teacher is supposed to be patient during the classroom process, especially in correcting the students’ mistakes. They should never show the displeasure face if the students’ answers are incorrect. A good teacher will lead his face be animated by showing positive reactions when students give correct answers, and use a question face when the answers are wrong.

            Being bad tempered during the lessons would only discourage the students and make the classroom process boring. The students have no more motivation to learn. It is not wise for a teacher to show his anger to the students when they make mistakes. As everyone knows that students’ making mistakes is an unavoidable part of learning.

 

  1. Humorous

A teacher should be able to add humours to his classroom activities. The humours inserted during the process of teaching could reduce the students’ nervousness and tense. It is an effort for the teacher to make a good rapport with the students. The class will be relaxed and learn better when they are not under pressure.

Laughs at the end of hard work will enhance the students’ memory and the lesson stay longer in the memory. Teachers should not be afraid to lessen seriousness in classroom activities by humours, as long as the humours are still contextual and relevant with the lessons. In such situation, the students feel free and are not afraid of making mistakes to express themselves. The class will be free from frightening situation

 

  1. Challenging

An English teacher should challenge his students. One of the ways to challenge them is that teachers should speak English with their students in or out of the classroom. By so doing, teacher provides examples and exposures of language use. Thus, students are expected to acquire the language. This build the students confidence and challenge them to speak English. If the teacher does not want to star to speak, the students will keep silent forever. However, the teacher should maintain the level of difficulty, not so high or so low, so that language is good enough to challenge the students, not to discourage them.

      The task from the teacher should challenge the students to express their ideas, feelings, or opinions using their own word, of course in English. By so doing, the objective of the teaching program, i.e. to enable students develop their understanding and ability to use the target language as a means of oral and written

Communication, could be achieved, teaching stated in the English curriculum 1994

 

Conclusion

            To conclude, it could be stated that the students’ success and the effectiveness of teaching are so much influenced by characteristics of the teacher’ performance in conducting the class. A professional teacher should possess such characteristics in his performance, and high language mastery as well. He has to try to apply those characteristics as well as possible in his lessons for benefits of the students. It is not difficult to do that. Try and try

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

References :

Sudjana, 2000.  Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru  Algensindo.

Anwar, 2004. Profesi Jabatan Kependidikan dan Guru sebagai  Upaya Menjamin Kualitas Pembelajaran. Jakarta : Uhamka Press

Departemen Pendidikan Nasioanal, 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris. Jakarta : Depdiknas

Eslin, 2006. Qualities of Good ESL teachers, Questions to ask yourself if interested in ESL Teach. The Internet Educational consulting services: http:/www.eslincanada.com/good.html . Accessed on  Sunday, Oktober 2006: 11.00.

 

 

 

Program Pendidikan AL-Quran

Program Pendidikan Alquran

Pada SMP Negeri 2Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota,Sumatera Barat.

(Oleh: ZURNIATI, M.Pd, Guru SMP N.2 Kec.Guguak)

A. Latar Belakang

Perkembangan teknologi yang menjet membuat generasi muda lupa dengan  dasar  keagamaan. Dengan segala fasilitas yang sudah sampai ke setiap penjuru, malah sudah sampai ke sudut kamar membuat para penerus bangsa ini terlena, sehingga tidak lagi menghiraukan suara adzan ketika waktu sholat sudah masuk. Selalu mengulur-ulur waktu kala diingatkan untuk melaksanakan sholat wajib, dengan alasan menunggu acara iklan untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat Islam, disaat jam tayang sinetron ditelevisi. Anak muda betah berjam-jam duduk di warnet dengan segala macam program atau main handphone untuk bicara yang tidak perlu. Mereka lupa dengan waktu, lupa dengan belajar, lupa masa depan yang penuh tantangan. Dunia ini membuat mereka lupa dengan dunia surau yang selalu didengungkan oleh para ulama kita. Maka terjadilah pergeseran nilai-nilai budaya dikalangan para pelajar.

Perkembangan teknologi ini tidak bisa ditinggalkan dan dikesampingkan. Perkembangan ini perlu diikuti dan dinikmati pada tingkat yang positif. Dunia pendidikan tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Pendidikan dipegaruhi oleh  perkembangan teknologi. Pendidikan identik dengan perkembangan teknologi.

Untuk mengantisipasi pengaruh teknologi yang negatif itu terhadap   para generasi muda dan membawa mereka  ke arah yang lebih baik, pemerintah provinsi Sumatera Barat telah menyusun  program Pendidikan Al Qur’an untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah raga telah menunjuk satu sekolah setiap Kota dan Kabupaten sebagai piloting kegiatan ini se-Sumatera Barat untuk tahun pejaran 2009/2010.

Untuk Kabupaten Lima Puluh Kota pada Tingkat SMP, SMP  Negeri 2 Kecamatan Guguak adalah salah satu dari sekolah yang mendapat kesempatan untuk melaksanakan pendidikan Al Qur’an ini.

B.Tujuan

Sesuai dengan Kurikulum Pendidikan Al Quran Tingkat SLTP, tujuan Mata Pelajaran pendidikan  ALQuran adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatkan kompetensi peserta didik  dalam membaca Al Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid dan irama tartil
  2. Meningkatkan kompetensi peserta didik untuk menulis ayat-ayat al qu’ran pilihan sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Arab
  3. Meningkatkan kompetensi peserta didik untuk mengartikan dan memahami isi ayat-ayat Al Qur’an pilihan
  4. Menghafal minimal 15 surat pendek pilihan yang terdapat dalam Juz ‘ dengan irama tartil
  5. Terbiasa mengamalkan isi Al-Qur’an, baik berkenaan dengan aqidah,ibadah maupun akhlak
  6. Meningkatkan efektifitas baca Al Qur’an dan pemahamannya di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

C.Fungsi

Mata Pelajaran  pendidikan Al Qur’an pada tingkat SMP berfungsi sebagai berikut:

  1. Mewujudkan generasi muslim yang cinta terhadap Al Qur’an
  2. Memotivasi peserta didik untuk membaca, menulis, menghafal, memahami dan mengamalkan AL Qur’an
  3. Melanjutkan upaya pada tingkat pendidikan sebelumnya.

D.Program Dan Kegiatan Pendidikan AL Quran serta Perkembangannya Untuk Tahun 2009-2010.

Pendidikan pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia seutuhnya baik  secara fisik maupun mental.  Secara fisik, pendidikan mengarah pada pembentukan fisik yang kuat, kokoh, sehat dan punya daya tahan serta mempunyai pengalaman bertahan dari bahaya yang mengancam dirinya. Bagian pembinaan mental, pendidikan menginginkan pembentukan kepribadian yang utuh, berakhlak mulia.

Untuk mewujudkan insan yang beraklah mulia, memiliki kepribadian yang baik dan u tuh, perlu di dasari oleh rasa keimanan yang kuat dan kokoh.  Rasa keimanan dan ketaqwaan  itu bisa dimulai dengan membaca, menghafal dan memahami AL Quran. Orang yang sudah membaca, menghafal dan memahami serta mengamalkan Al Quran adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa.

E. Sasaran

Program pendidikan Alquran ini  sasarannya siswa kelas  VII dan VIII SMP Negeri 2 Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat Tahun  Pelajaran 2009/2010. Kelas VII  terdiri dari 4 ( empat)  kelas, yang masing-masing kelas berjumlah 25 orang. Kelas VIII terdiri dari 4 (empat) kelas yang juga masing-masing kelas berjumlah 23 0rang. Siswa SMP Negeri 2 Kecamatan Guguak seluruhnya  beragama Islam. Orang tua Siswa 95 % berasal dari  petani dan 5 % berasal dari pegawai dan pedagang. Tingkat ekomoni siswa termasuk ekonomi lemah kebawah.

F. Strategi Pelaksanaaan Program dan Kegiatan

Strategi yang dipakai pada pelaksanaan program pendidikan Al Qur’an perlu dikembangkan sistem terpadu. Sistem terpadu yag dimaksud disini adalah  adanya kerja sama yang baik antara tiga lembaga pendidikan, yaitu  sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, keluarga sebagai lembaga pendidikan informal dan masyarakat sebagai lembaga pendidikan nonformal.

Pihak sekolah menjalin kerja sama dengan orang tua dalam bentuk tertulis dengan memberikan sebuah buku catatan kegiatan siswa dalam membaca dan menghafal  Al Quran di rumah sebagai buku kontrol. Pada buku tersebut dituliskan hari, tanggal serta nama surat yang dibaca dan dihafal oleh peserta didik. Buku itu  ditandatangani oleh orang tua dan satu kali dalam satu bulan dilakukan pengecekan dan diparaf oleh guru mata pelajaran di sekolah.    Pihak orang tua juga cukup memegang perana penting dalam program ini. Orang tua membekali anaknya dengan sebuah al Quaran yang selalu dibawa kesekolah setiap hari

Pihak masyarakat juga memberikan kontribusi yang cukup besar dalam kegiatan ini, seperti bagi peserta didik yang belum lancar membaca Al Quran tetap diberi kesempatan untuk tetap belajar pada MDA yang ada di masyarakat. Bagi yang sudah lancar  masyarakat biasanya mengadakan suatu acara yang dikenal dengan Khatam Al Quran  dengan suatu surat pernyataan atau Piagam, sehingga pihak sekolah melanjutkan ke tingkat menghafal dan memahami Al Qur’an.

Disekolah disediakan waktu 20 menit bagi siswa setiap awal pelajaran untuk membaca al quran secara bergantian. Kemudian juga  untuk jam muatan lokal diberikan dengan Pendidikan Al-Quran oleh guru agama setiap minggu dengan jumlah 2 jam pertemuan (80) menit.

Team Teaching

TEAM TEACHING SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF

(Oleh: ZURNIATI, M.Pd guru SMP N.2 Kec.Guguak)

  1. A. PENDAHULUAN

Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sstem Pendidikan Nasional dinyatakann hak-hak pendidik dan tenaga kependidikan sebagai berikut :

  1. Penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai
  2. Penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja
  3. Perlindungan hukum dalam menjalankan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual dan
  4. Kesempatan untuk menggunakan sarana, prasana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.

Berdasarkan Undang-Undang ini, kalau kita lihat dan rasakan, hak yang layak bagi guru belumlah memadai sesuai dengn kebutuhan dan tuntutan globalisasi  serta  pengaruh informasi dan teknologi. Upah yang diterima dalam satu bulan hanya cukup untuk kebutuhan satu minggu. Guru selalu berfikir untuk mencari usaha lain (umega) untuk menambah penghasilan demi untuk kelurga. Guru belum lagi memikirkan bagaimana proses pembelajaran yang baik dan metode yang cocok akan dipakai, sehingga guru melaksanakan tugas hanya sekedarnya saja. Hal ini tentu akan berpengaruh kepada peserta didik serta hasil dari proses pendidikan ini.

Dalam menanggulagi hal ini, pemerintah selalu memikirkan dan berusaha untuk memenuhi hak-hak guru tersebut. Untuk semuanya itu keluarlah Undang-Undang RI No 14 tahun 2005 yaitu undang-undang guru dan dosen. Pada undang-undang guru dan dosen tersebut di aturlah hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga pendidk. Pasal 16 ayat 1 dinyatakan bahwa Pemeintah memberikan tunjangan profesi kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik. Pemerintah melaksanakan sertifikasi  pendidik  berdasarkan kualifikasi akademik dan kompetensi. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru, sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesian secara berkelanjutan. Bentuk peningkatan kesejahteraan guru berupa tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik. Tunjangan tersebut berlaku bagi guru yang berstatus pegawai negeri maupun bagi guru yang berstatus non-pegawai negeri. Bagi guru yang memilki kompetensi diberi peluang untuk mendapatkan tunjangan profesi tersebut melalui prosedur yang sudah diatur oleh pemerintah mulai dari tingkat kabupaten sampai ketingkat pusat

Mulai tahun 2006, pemerintah telah mulai merekrut guru-guru yang memiliki kompetensi melalui Dinas kabupaten untuk memberikan tunjangan profesi guru. Guru mulai merasa bahagia dan termotivasi untuk melanjutkan pendidikan kesarjana atau S-1, karena salah satu syarat untuk bisa memperoleh tunjangan profesi itu harus memiliki ijazah Sarjana. Setiap tahun pemerintah memberikan jatah sesuai dengan kuato kabupaten untuk guru menjadi guru yang profesional dengan memberikan penilaian portofolio. Bagi guru yang tidak cukup nilai portofolio, maka diberikan pelatihan kepada guru tersebut yang dilaksanakan oleh Perguruan tinggi bekerja sama dengan Dinas Provinsi. Kegiatan ini sudah berjalan sampai saat ini.

Sesuai dengan panduan pelaksanaan sertifikasi, tujuan sertifikasi tenaga pendidik ini yaitu: untuk (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional,(2) meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan, dan (3) peningkatan profesionalisme guru. Dengan adanya sertifikasi ini diharapkan guru akan sejahtera hdupnya dan pelaksanaan tugas akan berjalan lancar, dan akhirnya hasil proses pembelajaran akan baik dan tingkat pendidikan Indonesia akan mencapai yang diiginkan.

Untuk mendapatkan tunjangan profesi tersebut ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh guru tersebut, salah satu adalah guru , harus mengajar bidang study yang diampu 24 jam perminggu. Mengajar dengan jumlah jam 24 perminggu bagi guru profesional inilah yang menjadi masalah saat ini. Menurut Pedoman Perhitungan Beban mengajar guru yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral PMPTK Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008 penyebab kekurangan jam mengajar ini antara lain sebaga berikut :

  1. Jumlah peserta didik dan rombongan belajar terlalu sedikit
  2. Jam pelajaran dalan kurikulum terlalu sedikit
  3. Jumlah guru di satu sekolah untuk mata pelajaran tertentu terlalu banyak dan
  4. Sekolah pada daerah terpencil atau sekolah khusus yang kondisinya terjadi karena polusinya sedikit.

Fenomena dilapangan dirasakan dan ditemukan bahwa guru mendapat kesulitan dalam pemenuhan jam mengajar  sebanyak 24 jam dalam satu minggu, sebagai syarat untuk mendapatkan tunjangan profesional itu. Hal in terjadi karena tenaga guru pada setiap sekolah telah banyak jumlahnya. Sementara setiap 1 (satu) kali enam bulan guru harus menyerahkan bahan ke Dinas propinsi dengan keterangan jam mengajar sebanyak 24 jam itu. Sesuai dengan surat keterangan Dirjen Nomor   tanggal 5 Agustus 2009, salah satu alternatif untuk pemenuhan jam mengajar itu adalah dengan Team Teaching. Dengan sistem pengajaran Team Teaching, pemenuhan jam mengajar guru 24 jam perminggu dapat dipenuhi

  1. B. Konsep Dasar Team Teaching

Dalam proses pembelajaran, banyak metode yang bisa dipakai untuk membuat para siswa tertarik. Guru diperlukan untuk kreatif dan inovatif dalam mencari metode yang membuat siswa aktif, kreatif dan menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum. Salah satu alternatif metode yaitu metode Team teachng.

Team Teachng merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran yang melibatkan dua orang guru atau lebih dalam dalam proses pembelajaran siswa, dengan pembagian peran dan tanggung jawab secara jelas dan seimbang. Melalui strategi Team Teaching, diharapkan hasil pembelajran lebih baik. Fenomena dilapangan masih kita temukan  kegagalan dalam proses pembelajaran dengan bukti masih banyak siswa yang gagal dalam mencapai tujuan pendidikan. Kegagalan ini disebabkan oleh berbagai faktor, bisa dari guru, siswa dan lainnya.  Menurut Buckily  ada empat penyebab  kegagalan proses pembelajaran yaitu:  (1) guru hanya menfokuskan materi, (2) guru memilih metode yang kurang tepat, (3) siswa tidak memahami pembicaraan guru, dan (4) siswa tidak tertarik. Salah satu alternatif bisa dilaksakan proses pembelajaran dengan Team Teaching.

Dalam Team teaching, sekelompok guru bekerja bersama-sama, merencanakan, melakukan proses pembelajaran, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran kepada sekelompok siswa (satu kelas), sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Ashuri. Kelompok guru ini harus bergabung pada mata pelajaran yang sama atau yang serumpun. Sebuah Team Teaching seyogianya terdiri dari guru yang sudah berpengalaman dengan guru baru, sehingga akan muncul  inovasi-inovasi dalam pengajaran.

Menurut sekelompok expert dari State University Amerika, ada beberapa  model team teaching seperti :

  1. Team Teaching tradisional adalah  sebuah model pembelajaran dimana dua  orang guru mengajar dalam satu kelas dan mereka berbagi tanggung jawab yang sama dalam mengajar kepada siswa-siswanya dan secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran selama jam pelajaran berlangsung. Salah satu gurunya melaksanakan pembelajaran dan yang satu lagi menulis atau membuat catatan di papan tulis.
  2. Supported Intruction adalah sebuah bentuk team teaching dimana salah satu guru menyampaikan materi ajar dan satu guru lainnya melakukan kegiatan tindak lanjut dari materi yang telah disampikan rekan satu timnya tadi.
  3. Paralel Intruction adalah sebuah bentuk team teaching yang pelaksanaannya siswa dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing guru dalam kelas tersebut bertanggung jawab untuk mengajar masing-masing kelompok.
  4. Differenciated Split Class adalah team teaching yang pelaksanaannya dengan cara membagi siswa ke dalam dua kelompok berdasarkan tingkat  ketercapaiannya. Salah satu guru melaksanakan pengajaran remedial kepada siswa yang tingkat ketercapaiannya dibawah KKM sedangkan guru yang lainnya  melakukan pengayaan kepada mereka yang sudah dan/atau  yang telah melampaui tingkat ketercapaian kompetensinya ( mencapai atau melebihi KKM)
  5. The monitoring teacher adalah bentuk team teaching lain dimana pelaksanaan pembelajaran dilasanakan oleh satu guru dan guru lain berkeliling kelas memonitor prilaku dan kemajuan siswa

Dari uraian diatas guru dapat menggunakan salah satu bentuk team teaching ini, atau menggabungkan bentuk satu dengan lainnya. Guru beserta Timnya harus berembuk untuk menentukan model yang akan dipakai dan merancang bersama bentuk dari proses pembelajaran yang akan dilaksanakan.

  1. C. Langkah-Langkah dengan Strategi Team Teaching

Team Teaching dilaksanakan tidak semudah pengajaran sendiri. Team teaching memerlukan persiapan yang matang.Team teaching memerlukan tim yang padu, seirama, sejalan, senada, seide, dan semodel. Ibarat tim olahraga, guru yang akan berkolaborasi harus mampu memainkan pembelajaran dengan sangat padu dan kompak ke arah tujuan yang akan dicapai. Suara guru satu dengan guru lainnya harus diatur sehingga enak didengar siswa. Posisi berdiri tim juga harus dijaga dan diatur. Upayakan kelas benar-benar hidup dengan pemaknaan tunggal. Jangan sampai guru satu lebih berkuasa dibandingkan guru lainnya.

Cara mudah untuk melakukan team teaching adalah seagai berikut :

(1). Merencanakan bersama. Duduklah berdua untuk membincangkan pembelajaran yang akan dilaksanakan lalu aturlah sampai ke hal teknis di kelas. Perencanaan yang dibuat bersama harus menjadi pedoman utama. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula.

(2). Laksanakan bersama. Ketika di kelas, tim harus semuanya berada di kelas dengan posisi yang telah diatur dalam rencana. Jangan sampai guru lainnya tidak masuk dengan alasan percaya dengan guru lainnya. Janagan lupa, ukurlah tingkat pemahaman siswa saat pelaksanaan. Kendali keberhasilan harus menjadi kunci kerja tim.

(3). Evaluasi bersama. Setelah pembelajaran usai,t eam perlu melakukan evaluasi bersama, Tim memerlukan catatan khusus selama proses pembelajaran berlangsung, kemudian melakukan diskusi mencari solusi terhadap masalah yang ditemukan. Kemudian tim bisa menentukan metode serta langkah berikutnya yang lebh baik.

Team teaching bisa telaksana dengan baik kalau guru atau Tim guru:

1. Memiliki kemauan, komitmen dlm Team teaching, bukan terpaksa

2. Menyadari adanya keterbatasan (pengetahuan, waktu, komunikasi) pd dirinya

3. Mau memberi kepercayaan kepada orang lain dan memegang kepercayaan orang lain (saling percaya)

4. Mau bekerja sama dalam satu tim

5. Memiliki pribadi yg sehat, terbuka, tidak emosional, tdak mudah putus asa

6. Mampu berkomunikasi efektif

7. Mampu mengembangkan bidang keahlian atau bidang yang diampu

  1. D. Kebaikan dan keburukan Team Teaching

Setiap metode memiliki kebaikan dan kelemhan. Tidak ada metode yang perfect dalam proses pembelajaran. Begitu juga dengan metode team teaching. Tidak selamanya team teaching itu berhasil dan sukses dalam pelaksanaannnya. Ada beberapa kebaikan dari team teaching seperti :

  1. Terbentuknya kerja sama sesama teman sejawab (kolaborasi) atau se mata pelajaran, maka akan berjalanlah KKG untuk setiap mata pelajaran disekolah tersebut sehingga Penelitian Tindakan Kelas bisa dilaksanakan.
  2. Terlaksananya bermacam-macam metode pengajaran yang diketahui dalam proses pembelajaran karena sudah drancang sedemikian rupa secara bersama timnya.
  3. Berjalannya monitoring proses pengajaran secara berkelanjutan dan mencari solusi terbaik untuk selanjutnya karena guru merasa dikontol dalam proses pengajaran oleh timnya.
  4. Terlaksananya program Remedial dan pengayaan materi.
  5. Terbentuknya pribadi yg sehat, terbuka, tidak emosional, dan tidak mudah putus asa
  6. Menyadari adanya keterbatasan diri terhadap pengetahun, waktu, komunikasi

Ada beberapa kelemahan dari team teaching itu seperti :

  1. Sebagian guru resisten terhadap satu macam metode pengajaran saja yaitu pengajaran single teacher teaching sehingga team teaching dirasakan suatu hal yang mengungkungnya.
  2. Sebagian guru tidak suka dengan anggota teamnya sehingga hal ini akan menghambat kerja sama diantara anggota team. Sebagian lainnya merasa bahwa mereka  bekerja lebih banyak dan lebih keras, namun gajinya sama dengan anggota teamnya yang nota bene bekerja lebih sedikit atau mengikut saja.
  3. Adanya guru yang tidak mau berbagi ilmu dengan orang lain, karena dia beranggapan bahwa dia payah dan susah mendapatkan ilmu itu apalagi menghitung biaya untuk mendapatkan ilmu itu, sehingga mereka ingin menikmatinya sendiri.
  4. Team teaching memerlukan energi dan pemikiran yang lebih banya dibanding dengan mengajar secara individu sedangkan hasilnya belum tentu lebih baik sementara gaji yang diterima tetap sama dengan mengajar seperi biasa.
  5. Kelemahan lain bisa juga datang dari pihak sekolah atau pimpinan sekolah yang  tidak peduli dengan kegiatan guru, sehingga guru merasa tidak perlu team teaching itu

E.Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan.

Semakin berkembangnya dunia pendidikan yang dibarengi oleh perkembangan teknologi saat ini, maka semakin dituntutnya guru sebagai agen pembelajaran untuk banyak berbuat dan memiliki inovasi yang berguna baik bagi guru sendiri maupun bagi peserta didik. Inovasi itu bisa dari materi ajar, metode yang dipakai saran  yang dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Team teaching adalah salah satu model metode yang bisa dikembangkan dis ekolah-sekolah untuk meningkatkan motivasi guru dan siswa. Sementara metode team taeaching ini juga akan ikut membantu guru dalam perhitungan jumlah jam mengajar 24 jam perminggu

  1. Saran

Bagi guru yang belum melaksanakan team teaching, tidak ada salahnya untuk mencoba melaksanakan dengan membentuk tim pada sekolahnya. Sebelum melaksanakan team teaching tim terlebih dulu duduk besama untuk mendisain pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Tim juga perlu menyampaikan kepada pimpinan bahwa pembelajaran akan dilaksanakan secara tim teaching kalu pada sekolah tersebut belum dituliskan pada surat keputusan kepala sekolah (SK pembagian tugas). Kemudian tim juga bissa menjadikan tim teaching ini sebagai wahana untuk melaksanakan Penelitian tindakan Kelas atau Action Reserach.

Daftar Pustaka

Depdiknas. 2005.  Undang-Undang Guru dan Dosen.Jakarta: Sinar Grafika

Suparlan.2006. Guru Sebagai Profesi. Jakarta : Hikayat.

Depdiknas.2006. Panduan Pelaksanaan Sertifikasi Guru.Jakarta. Depdiknas

Kroirani, Nugroho. 2008. Kendala Pelaksanaan Team Teaching di Sekolah.

http;//nugieshare.dagdigdug.com/index.php/arrchieve/28. ( diakses tanggal 7  September  2009)

Artiningsih,Yeni. 2008.Team Teaching

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/team-te aching (diakes tanggal 7  September  2009)

Buckley,Francis J.1999. Team Teachng, What, Why  and How. :Library of Congress Catology in-Publication Data

Ashuri,Muhammad. 2009. Team Teaching.

http//kiranamediaedukasi.blogspot.com/2009. ( diakses tanggal 10  September 2009)

Peranan Media Dalam Pembelajaran

Peranan Media Dalam Pembelajaran

( By : Zurniati, M. Pd Guru SMP N.2 Kec Guguak )

A.PENDAHULUAN

Bahasa Inggris termasuk salah satu mata pelajaran wajib yang harus diajarkan disekolah mulai dari tingkat SMP sampai ke tingkat perguruan tinggi. Sesuai dengan Kurikulum Bebasis Kompetensi (KBK)  serta Permen No 22 Standar Isi, ditingkat SMP diberikan mata pelajaran bahasa Inggris dengan waktu pertemuan 4 jam pelajaran per minggu atau 160 menit.

Fenomena yang ditemui dilapangan pendidikan, Bahasa Inggris termasuk mata pelajaran yang ditakuti dan tidak disenangi oleh banyak siswa. Hal ini terjadi karena beberapa factor penyebabnya, seperti materi pelajaran , metode yang dipakai serta media yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran.

Salah satu penyebab yang sangat dominan dalam proses pembelajaran yaitu rendahnya kesadaran sebagian guru untuk menggunakan media dalam proses pembelajaran .  Guru sering merasa terbebani untuk menggunakan media dalam  proses pembelajaran sehingga siswa merasa tidak tertarik dengan materi yang diberikan karena merasa seperti kegiatan yang rutinis dan tidak bervariasi. Sehingga siswa bisa menerka langkah guru berikutnya dalam proses pembelajaran. Hal ini membuat siswa tidak tertarik dan bosan dengan gaya dan langkah guru yang tidak berobah-robah dari hari ke hari.

B. PENGERTIAN PEMBELAJARAN

Berbagai pendapat telah dikemukan oleh para ahli tentang pengertian pembelajaran seperti: Ali (2003) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. Sehingga terjadilah komunikasi dua arah antara guru dengan siswa serta sebaliknya antara siswa dengan guru. Komunikasi bisa lancar dan bermakna jika antara guru dan siswa saling memahami serta saling mengerti.

Pembelajaran bisa berhasil kalau guru telah bisa membelajarkan siswa seperti yang dikatakan oleh Sagala (2003), Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan azas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pendidikan dikatakan berhasil kalau siswa sudah mampu menggunakan dan memanfaatkan azas pendidikan.

Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari sesuatu kemampuan dan atau  nilai baru (Harjanto,1997). Proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademisnya, latar belakang ekonominya dan lain sebagainya.

Guru harus mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mencerdaskan siswa. Pembelajaran yang ada dikelas maupun diluar kelas bukan sekedar penyampaian informasi kepada siswa. Pembelajaran yang diselenggarakan guru haruslah melibatkan mental dan tindakan serta keseluruh  indra  secara total, jadi bukan hanya sekedar komsumsi otak semata. Guru perlu pula melatih siswa  untuk mempelajari gagasan, memecahkan masalah, dan merefleksi apa yang dipelajari dalam kehidupanya.

C. PENGERTIAN MEDIA

Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar atau pengantar pesan dari pengirim penerima pesan. Assosiasi Teknologi dan Komunikasi pendidikan di Amerika mnyatakan bahwa media adalah segala bentuk  dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/imformasi. Sementara Gagne (1970) menyatakan bahwa media  adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar. Kemudian Briggas menambahkan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar

Dalam metodologi  pendidikan  ada dua aspek yang paling menonjol, yakni metode mengajar dan media pendidikan sebagai alat bantu mengajar. Media pengajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, meransang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar (Ali, 2004 ). Lebih jauh Sharon Smaldina dan kawan-kawan (2004) menyatakan bahwa media adalah sarana untuk berkomunikasi dan sumber imformasi

Media akan  menjadi alat bantu yang efektif tatkala guru mampu mengemas  beberapa kegiatan yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan dirinya sendiri secara aktif. Media akan membuat siswa aktif berperan dalam proses pembelajran. Media akan bisa memancing siswa untuk berkomunikasi dalam proses pembelajaran bahasa inggris.

Agak berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Nasional  Education Assosiation  (NEA) bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik yang tercetak maupun audiovisual serta perlengkapannya.

D. JENIS MEDIA

Berbagai penelitian mendukung pentingnya variasi penggunaan media dalam pembelajaran guna meningkatkan kualitas  pembelajaran. Media Audivisual, dari yang canggih seperti televisi, film dan perlengkapan berbentuk  komputer hingga sampai yang sederhana seperti alat peraga, ilustrasi, dan ekskursi, menjadi bagian  yang penting dalam setiap tingkatan pembelajaran.

Menurut Harjanto (1997) ada beberapa jenis media yang bisa digunakan dalam proses pengajaran :

  1. Media Grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan, atau diagram, foster, kartun, komik.
  2. Media tiga dimensi: seperti solid model, model penampang, model susun, dan model kerja
  3. Media proyeksi: seperti : slide, filmstrip, film, OHP
  4. Penggunaan lingkungan sebagai media pendidikan.

Menurut Depdiknas (2005) ada 5 media pembelajaran secara arbitrer  yaitu:

1.Visual:Gambar, sketches, ilustrasi, pola, diagram, foto, film, filmsktrip, slide, chart, graph( pictorial, lingkaran, balok, garis), deawings, lukisan, buletin,koran, majalah, poster, periodical, buku(teks, referensi,perpustakaan), ensiklopedia, kamus, komik, kartun, karikatur, peta(wisata, komersial, atau ekonomi, politik) globe,direktori jalan, brosur perjalanan, rute dan timetable kereta apai dan pesawat, iklan, calender, mural, tabel, diorama,friezes, simbol ( seperti x á $ ), demontrasi, miming, desk presenter.

2. Audio (musik, kata , suara dan efek suara) rekaman, tape, radio, laporan,siswa, cerita, puisi dan drama,alat musik, pre-recorded palays, laporan, diskusi

  1. Audio-visual: sound moving pictures, televisi, puppets( stick, glove, string), imrovized, and scripted dramatization, role playing, ekskursi, fenomina alamiah yang ditemui di sekeliling, demontrasi, LCD, dan komputer
  2. Tactile: specimen, objek, ekshibit, artifact, model, sculptured figure, live and stuffed animals, eksperimen: tools, material yang telah dikontruksi dari satu model, mainan, wayang dan pertunjukan wayang,: mengukur dan menimbang,, kebun pekarangan,: templates, dan termometer.

5        Virtual : internet, website, e-mail, audio-video streaming, chatting, messaging, audio-video conferencing, e-newsgroup, cybernews.

Bebagai penelitian mendukung pentingnya penggunaan media dalam pembelajaran  bahasa inggris guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

E. FUNGSI MEDIA

Media dapat digunakan  untuk mengatasi rasa kebosanan siswa, jika siswa tertarik dengan apa yang mereka kejakan, mereka akan menikmati proses  belajar mengajar dan memahami materi yang diberikan (Ur, 1988)

Kemudian De Porter dan Hernacki (2000) menyatakan bahwa media  visual/alat peraga dapat menciptakan lingkungan yang optimal, baik secara fisik maupun secara mental. Hal yang terpenting adalah bahwa media mampu mendorong siswa untuk berbicara, menulis, dan dengan menggunakan media  proses belajar mengajar  dan hubungan siswa dengan guru akan terjalin lebih efektif

Menurut Sukartiwi (1996) ada beberapa keuntungan yang dapat diraih  dengan menggunakan media yaitu :

  1. meningkatkan motivasi siswa
  2. mencegah kebosanan siswa  dalam mengikuti suatu proses belajar-mengajar
  3. menjadikan  proses belajar-mengajar berjalan lebih sistematik
  4. memudahkan siswa memahami intruksi guru dalam  proses belajar-mengajar
  5. memperkuat pemahaman siswa pada kontek pelajaran yang diharapkan.

Dalam Sydney Micro Skill, media  pembelajaran berfungsi untuk :

  1. membangkitkan dan menjaga ketertarikan siswa
  2. merangsang otak siswa untuk berfikir dengan landasan yang konkrit
  3. mendapatkan tingkat pemahaman yang tinggi secara efisien dan tingkat permanensi dalam pembelajaran siswa

Namun demikian potensi besar media itu masih kurang dioptimalkan kegunaannya oleh para guru. Beberapa guru masih memiliki””psychological injection” dalam penggunaannya dan kurang trampil dalam implimentasinya disebabkan minimnya pelatihan yang dapat diikuti.

F. PEMILIHAN MEDIA

Sebenarnya dasar pertimbangan untuk memilih media sangatlah sederhana, yaitu apakah media itu dapat memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan atau tidak. Dalam bahasa yang lebih tegas Mc Conel menyatakan ””if the medium fits, use it”  bila media itu sesuai pakailah.(Sadiman et al, 2002).

Kemudian Harjanto menegaskan ada beberapa pertimbangan dalam memilih media yaitu :

  1. Apakah media itu cocok untuk satu pokok bahasan atau yang lain
  2. Apakah cocok untuk pengajaran mandiri/klasikal
  3. Apakah perlu persiapan sebelum ditampilkan, kalau perlu tentu butuh waktu.
  4. Apakah berwarna atau tidak, karena sesuatu yang berwarna akan menarik perhatian siswa.
  5. Apakah bergerak/tidak serta cara menggunakannya akan berbeda.

Setelah guru bisa menjawab pertanyaan diatas , kemudian guru bisa menentukan dan memilih media yang cocok serta praktis dalam penggunaannya dalam proses pembelajaran. Dengan berbagai pertimbangan, guru akan lebih bisa menentukan dan memilih media yang cocok dan tepat

Dalam pemeilihan media yang cocok dan berdaya guna, ada beberapa faktor yang sangat  perlu dipertimbangkan, seperti yang dikatakan A J Romiszowski (1988), faktor  dalam memilih media yaitu :

  1. Jenis tugas belajar- Jenis tugas yang akan diberikan kepada siswa perlu juga dianalisa oleh seorang guru bahasa inggris, apakah tugas itu untuk individu atau kelompok.
  2. Karakteristik siswa- Dalam pemilihan media karakteristik siswa sangat perlu diperhatikan, karena karakteristik siswa dikota tidak akan sama dengan karakteristik siswa yang tingal dipedesaan.
  3. Ketrampilan guru – Dalam pemilihan media sangat diperlukan keterampilan seorang guru bahasa inggris. Guru yang trampil dia akan selau memvariasikan medianya karena dia akan bisa merancang serta membuat langsung media pembelajaran tanpa menunggu bantuan orang lain, misalnya guru yang trampil menggambar dia akan lansung melukis media, tanpa diupahkan kepada orang lain.

G.Kesimpulan

Dalam pemilihan media, guru harus bisa menganalisa materi pembelajaran secara jeli dan teliti, karena materi pembelajaran dengan media sangat erat hubungannya. Guru menentukan media yang cocok berdasarkan meteri pembelajaran yang tersedia pada kurikulum yang sudah ada

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad, 2004. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Argensindo Offset

Chisholm, Margaret. 1076. Media Personnel in Education A competency Approach. Singapore: Plentice Hall.Inc

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris. Jakarta: Depdiknas

Harjanto. 1997. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Kemp,Jerrold. 1985. Planning and Productional Media. New York: Harper& Row, Publisher

Schramm, Wilbur. 1977. Big Media Little Media.Tools and Technologies for Intruction.London: Sage Publication, INC

Sagala, Syaiful, 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran  untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar Mengajar. Bandung: Alfabeta

Slamdino, Sharon dkk. 2005. Intructional Technology and Media for Learning. New Jersey: Pearson Educ,Inc

Romiszowski. 1988. The Selection and Use of Intructional Media. New York: Kogan Page Publishing

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!